Namanya mungkin tidak terlalu dikenal oleh banyak kalangan termasuk saya karena saya bukanlah pecinta sepak bola. Waktu itu secara tidak sengaja saya menonton acara berita sepakbola di TV dan saya sangat kaget ketika secara tidak sengaja melihat berita tentang kematian pemain sepakbola yang masih berusia 25 tahun.. Yah.. dia adalah Piermario morosini pemain sepakbola Italia yang bermain di Livorno. Pier meninggal karena terkena serangan jantung ketika sedang bertanding di lapangan.
Ketika mendengar berita itu di TV saya jadi penasaran dan saya ingin tahu lebih jauh lagi siapa itu Piermario Morosini. Saya sangat terkejut ketika sedang mencari berita tentang dia di internet, saya membaca mengenai kehidupan dia dan ternyata Pier sudah ditinggal oleh ibunya yang meninggal ketika Pier berumur 15 tahun, tidak cuma itu 2 tahun kemudian dia ditinggal lagi oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Lalu tidak berhenti sampai disitu, untuk ketiga kalinya dia ditinggal pergi oleh adiknya yang meninggal karena bunuh diri. Membaca kisah hidupnya sungguh sangat menyedihkan sekali. Dari kejadian itu Pier hanya tinggal bersama kakaknya yang ternyata kakanya adalah seorang penyandang cacat sehingga satu-satunya orang yang harus bekerja untuk bisa bertahan hidup adalah Pier sendiri. Namun di tengah popularitasnya dan usianya yang masih muda Pier harus dipanggil Tuhan.
Benar-benar kisah hidup yang sangat menyedihkan. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang harus ada dalam posisi tersebut. Jika Pier harus memilih pasti Pier tidak mau memilih jalan hidup yang seperti ini. Saya beruntung masih mempunyai orangtua meskipun buat saya mereka bukan orang yang sempurna. Mamah dan papah saya orang yang gaptek, sama sekali tidak mengerti teknologi. Mereka tidak pernah bepergian atau shooping seperti para orangtua lainnya karena mereka tidak punya uang untuk berbelanja seperti itu. Jika bepergian mereka hanya memakai baju yang seadanya bukan baju yang mewah ataupun modis. Sempat terpikir oleh saya mengapa saya tidak punya orangtua seperti teman-teman saya yang orangtuanya gaul, modis dan tidak gaptek. Tapi dari kisah hidup Pier ini saya menjadi sadar dan rasanya ingin menangis kenapa bisa-bisanya saya berpikir kalau saya menyesal punya orangtua seperti sekarang ini. Benar-benar bodoh saya ini. Pier masih bisa bersyukur walaupun ditinggal orangtua, ditinggal adiknya dan punya kakak yang cacat. Semuanya bukan berarti membuat dia untuk menyerah tapi justru itu rencana Tuhan untuk membuat dia semakin bangkit. Orangtua saya tidak pernah bisa membelikan saya barang mewah karena keterbatasan uang. Tetapi Pier mengajarkan kalau namanya hidup harus berjuang. Bukan salah orangtua yang tidak bisa membelikan tapi salah saya sendiri mengapa saya tidak pernah berjuang untuk mendapatkan itu.
Saya bangga dengan orangtua saya apapapun keadaannya. Setiap kali ingin makan, makanan selalu siap tersedia di lemari makan sehingga saya tidak pernah kekurangan makan. Orangtua lain mungkin lebih gaul tapi belum tentu mereka bisa masak seperti mamah saya dan belum tentu selalu menyediakan makanan buat anaknya. Kebanyakan dari mereka hanya menjadi mementingkan dirinya sendiri sehingga anaknya jadi terlantar. Beberapa yang lainnya ada yang sudah tidak punya orangtua sehingga membuat mereka kesepian.
Saya memang orang yang beruntung tapi saya tidak pernah mau merasakannya. Yang ada selalu mengeluh dan mengeluh. Tapi orangtua saya tidak pernah benci terhadap saya walaupun kerjaan saya hanya mengeluh sama mereka. Saya beruntung punya orangtua yang sayang walalupun mereka bukan orang yang sempurna namun cinta mereka buat saya sangat sempurna.
Buat saya Piermario Morosini adalah seorang pahlawan bagi keluarga. Thanks pier..buat kisah hidup yang mengajarkan untuk selalu bersyukur dan tidak pernah menyerah dengan keadaan. Selamat jalan.... semoga kisah hidupmu bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya...